jam lagi bubaran toko-toko sepanjang Malioboro, dimana pelayan-pelayan toko berhamburan keluar toko untuk pulang. Kuraih rokok di saku jaket yang tinggal tiga batang, kunyalakan dan kuhisap kuat sambil kuhembuskan keras ke udara. Dinginnya malam tak cukup untuk mendinginkan hati ini, terlebih dalam calanaku yang menginginkan jatah. Fikiranku melayang mencari cara memenuhi hasrat ini. Agen Judi Terbaik
Waktu pun berjalan, fikiranku terus berkecamuk, terdengar suara wanita memesan segelas teh hangat di sampingku. Kugeser letak dudukku, kulirik dia, hmm lumayan juga nih cewek. “Permisi mas numpang duduk” sapanya. “Oh monggo, silahkan-silahkan” jawabku memberi tempat kepadanya. “Kok belum pulang mbak?” tanyaku membuka percakapan. “Iya mas, tunggu jemputan, tapi kok belum kelihatan ya” jawabnya sambil menengok kiri dan kanan. “Biasanya dah jemput dari tadi lho mas” tambahnya. Tiba-tiba Hp di tas wanita itu berbunyi, kulihat dia menjawab telepon itu, kuperhatikan wajahnya. Alamak! wajah itu tertekuk marah, menambah manis wajah ayunya. “Kurang ajar” katanya sambil menutup pembicaraan teleponnya. “Kenapa mbak, kok marah-marah?” tanyaku padanya. “Dasar cowok gak tahu di untung, minggat sana sama gendaknya” maki dirinya kepada cowok di telepon tadi. Tiba-tiba dia menelungkupkan wajah ayunya ke atas meja sambil menangis. Wah kacau nih, pikirku. “Sudahlah mbak, nggak usah dipikirin, laki-laki emang begitu” rayuku sambil tak kusadari bahwa aku juga laki-laki yang mungkin lebih berengsek dari cowoknya tadi.
“Gimana kalau saya saja yang mengantar embak?” kutawari diriku untuk mengantar. Wanita itu menengadah, terlihat air mata yang masih mengalir dari kedua boal matanya. Oh My God, ayu tenan gumam hatiku, wajahnya itu lho lucu, imut, kasihan diterpa cahaya lampu tempel di meja gerobak dagangan makanan. “Mas nggak papa? Nanti ada yang marah? tanyanya sambil menatap lekat padaku. “Kita senasib kok mbak, Anton” kataku memperkenalkan diri sambil meraih tangannya menuju motor. Setelah kubayar minuman kita, kuulurkan helm kepadanya. Motor kustarter, dia duduk dibelakangku. “Aku Amoy mas. Senasib bagaimana sih mas?” tanyanya padaku. “Aku juga ditinggal cewekku sore tadi, dia pergi sama teman-temannya tanpa pamit padaku” jawabku. “Tinggalmu di daerah mana mbak?” tanyaku.
“Apa” tanyanya sambil mendekatkan kepalanya ke samping kepalaku, seerrr… payudara yang bulat kencang, sekarang nempel merapat di punggungku, terjadilah pemberontakan di dalam celana dalamku. Sial… aku lupa mencukur bulu bawahku, sekarang terasa perih menggigit terdesak pisang ambonku yang perlahan serta pasti mengeras. “Kenapa mas?” tanyanya sekali lagi padaku. Wajah gadis itu di sebelah kanan agak kebelakang arah wajahku, kutengok ke samping kanan, persis yang kuduga sebelumnya, begitu menengok, kucium lembut dan menyentuh pipi serta sedikit mulutnya, “iiiihhh, nakal ya masnya ini” katanya sambil mencubit pinggangku. Haa haa haa… “Kostmu daerah mana adik manis?” tanyaku menahan perih di pinggang akibat cubitannya. “Enggak tau, aku lagi males pulang” cemberutnya sambil terus mencubit pinggangku. Kuhentikan motorku di tepi jalan. “Kok berhenti mas?” tanyanya. Agen Judi Uang Asli
Sampailah kita di daerah pantai Parang Tritis, angin laut selatan menyambut kita disertai dinginnya musim kemarau bulan Agustus. Kulepas jaketku dan kukenakan kepadanya yang hanya berkaus ketat berlengan pendek. Kuparkir motor di atas pasir pesisir pantai, kurengkuh bahunya untuk duduk di pasir, dia diam saja, pandangan jauh menatap kelamnya lautan. “Kenapa, kok ngelamun” tanyaku. “Tauk nih, kita kan baru beberapa jam lalu kenalan, kok udah akrab ya” jawabnya. “Emang kenapa? nggak boleh? Aku suka dari pandangan pertama tuh” kataku ngawur. “Iiiiih, ngawur lagi deh” sergahnya sambil mulai mencubitku lagi. Sebelum tangan itu sampai, aku bangkit berlari menghindar, terjadilah kejar-kejaran diantara kami, sampai suatu saat kakiku tersandung lobang dan jatuh. Karena jarak kami tidak terlalu jauh, dia pun ikut terjatuh, sebelum sempat kusadari, reflek tanganku meraih tubuhnya, berpelukanlah kami berdua. Dia terdiam, akupun menahan nafas, perlahan kusorongkan wajahku mendekati wajahnya, kucium lembut bibirnya, ia pun membalas sambil memejamkan matanya, kami berdua terhanyut, melayang tinggi dengan latar belakang deburan ombak pantai selatan. Bonus Deposit
Malampun semakin larut, kami memutuskan untuk menginap di salah satu losmen yang berada i sekitar pantai. “Kok kamu mau menginap dengan cowok yang baru kamu kenal sih” bisikku ketelinganya. “Habis mas baik sih, mau nemenin Amoy yang lagi sebel” katanya manja. Kuraih wajahnya, kepagut bibir mungil Amoy , kami berdua berciuman mesra. Tangan kananku memeluk pinggang, tangan kiriku bergerilya masuk ke dalam kaus Amoy. Cumbuan kualihkan ke leher jenjang Amoy, dia mendesis dipeluknya tubuhku. “Sss…mass… enaaakk” erang Amoy. Tangan kiriku berusaha masuk melalui bra yang agak ketat, sedang tangan kananku berusaha membuka kaitan bra di punggung Amoy . “Mas Ann… ton… Amoy lee.. messs nih… sambil tiduran yuk…?” pintanya. Kurebahkan diri Amoy ke atas ranjang, kumainkan kedua belah payudara Amoy, Amoy terpejam kembali dengan mengerang perlahan… sss… sss… yang keras mas remasnya… sss…
Kubungkukkan bandan, mendekat ke arah payudara Amoy, ku kulum puting sebelah kiri sementara tangan kananku meremas sebelah kanan. Tangan Amoy menjambak rambutku… Sss… enaaakk… masssss… hisap yang kuat sayang… Jilatanku kuteruskan menelusuri sampai ke pusar, kumainkan lidahku di lubang pusar Amoy. Malam kian larut, deburan ombak terdengar sampai ke dalam kamar losmen, seakan musik mengiringi deru nafas memburu kami berdua. Kupandangi tubuh Amoy, kuusap mesra wajahnya, Amoy memandangku pasrah, kubelai perutnya dengan tangan kanan, terus turun hingga ke celana panjang Amoy. Kubuka kancing celana Amoy, kuturunkan resluiting dan kubelai dengan punggung tanganku.
“Mas Anton… jangan siksa Amoy dong… cepet copot baju dan celana mas juga” pinta Amoy seperti memelas. “Sebentar sayang, mas mau buang air kecil dulu ya” kataku sambil berlalu ke kamar mandi. Aku mencopot baju dan celanaku serta celana dalamku sambil mengelus penisku “sabar ya sayang, nanti kukenalkan pasanganmu” kataku bergumam senang. Amoy terpekik tertahan melihat kondisiku yang bugil, sambil menutup mulutnya. “Mas Anton… kok gede banget penisnya? kira-kira muat gak ya unya saya?” tanyanya. “Kamu masih perawan Ka?” tanyaku mendekatinya. “Udah enggak sih… cuman dah lama gak kemasukan, apalagi segede punya emas?” jawabnya senyum dikulum. “Ya udah nikmatin dulu deh punya emas ini ya” kataku sembari menyodorkan penisku ke wajahnya. Amoypun bangkit dan menyentuh penisku sembari dijilatinya, kemudian memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya, terlihat sesak tatkala dia memasukkan batangku.
Aku tersenyum melihatnya terbelalak-belalak. “Cape nih mas mulut Amoy, pegel!” protesnya. “Ya udah, sekarang giliran emas mau cium vegi Amoy ya” kataku meredakan protes Amoy. Kemudia Amoy kembali tiduran sembari mengangkangkan kedua pahanya, kudekatkan kepalaku di selangkangan Amoy yang memang luar biasa bersihnya kemaluan Amoy dengan rambut sedikit dirapikannya, kumulai mengulum kemaluan Amoy. Kedua tangan Amoy menjambak rambut di kepalaku. “Achhh… terus masss… yesss… gigit masss…” erang Amoy seperti cacing kepanasan. Gila aja cowok goblok itu, barang sebagus ini disia-siakan bathinku berkata sembari terus menjilat dan sesekali kumasukkan lidahku kedalam liang vegi Amoy. “Maasss… aaakkkuu… nyammpeee…!” jerit Amoy sembari menekan kepalaku ke dalam vaginanya. Tubuh Amoy bergetar hebat, dari lubang kemaluan Amoykeluar lendir orgasme yang lansung tak kusia-siakan untuk menyedotnya ternyata gurih sekali cairan orgasme Amoy. Setelah beberapa saat Amoy tergolek lemas seperti tak bertenaga, kudekati Amoy dan berbaring di sisinya, kukecup keningnya dan kubelai rambut Amoy, “Gimana rasanya sayang?” tanyaku. Amoytak menjawab, hanya tatapan sendu serta senyuman Amoy yang mewakili sejuta kata-kata yang mewakili dirinya mencapai puncak kenikmatan.
Kemudian aku bangkit, melumuri penisku dengan air ludah, agak kuangkat Amoy untuk agak menepi dari ranjang. Perlahan aku arahkan penisku ke tengah selangkangan Amoy. “Pelan-pelan ya mas…” pinta Amoy memohon. Pertama ku sibak bibir vagina Amoy, kemudian kutempelkan kepala helm penisku di tengah vaginanya, perlahan-lahan kudorong masuk ke dalam. Dengan orgasmenya Amoy tadi, seolah telah siap untuk menerima kedatangan penisku, tetapi tetap saja agak sempit. Bonus New Member
Setelah kulihat Amoy sudah terbiasa dengan penisku, mulailah kumaju mundurkan senjataku tersebut, sambil melirik Amoy. Ternyata Amoypun sudah menikmati keluar masuknya penisku di vaginanya. Sekitar lima menit kemudian Amoy kontraksi, rupanya dia sudah mau mencapai orgasme lagi. Massssss…akkkuuu… nyammmppeee… erangnya sambil memeluk erat tubuh serta menjepit keras pinggulku. Aku imbangi orgasme Amoy dengan menancapkan batang penisku dalam-dalam.
“Gimana sayang?” tanyaku. “Waduh mas luar biasa deh” jawabnya sambil terengah-engah. Kemudian Amoy aku suruh telentang di atas rajang, kemudian aku naik di atas tubuh Amoy, kujilati sekitar payudara Amoy yang memang sudah basah oleh keringatnya. Kemudian kusuruh kedua tangan Amoy untuk menjepit kedua payudaranya, setelah itu batang penisku aku tusukkan di tengah jepitan payudaranya. Amoy tersenyum paham dengan perbuatanku dan bertanya “Kenapa gak dikeluarin di dalam vagina Amoy aja mass?” tanyanya. “Enggaklah, nanti kamu hamil lagi” jawabku. Amoy pun tersenyum manis. Kukocok kemaluanku di jepitan payudara Amoy, tak berapa lama terasa ada sesuatu yang akan meledak dari ujung kemaluanku, Amoy menengadah ke arah payudaranya, “Kaaa… masss mau sammmpe juga nihhh…” erangku.
Kulihat Amoy membuka mulutnya, seolah mau menampung muncratan orgasme ku. Melihat hal itu buru-buru ku copot penisku dari jepitan payudara Amoy dan kumasukkan ke mulut Amoy, disambutnya penisku dan di kulumnya. Meledaklah semua spermaku di mulut Amoy sampai tetes mani terakhir. “Enak kok mas, gurih… Amoy seneng sama sperma emas?” kata Amoy sambil tersenyum. Akupun seperti habis berlari berpuluh-puluh meter, nafasku tersengal tetapi senyumku masih bisa kupaksakan untuk Amoy. Kupeluk tubuh bugil Amoy, kuciumi wajah, pipi, dan kamipun beciuman mesra, kamipun tertidur pulas hingga pagi tanpa sehelai benang nempel di kedua tubuh bugil kami.
Pagi pun merangkak ke siang, aku terjaga dan kulihat di sebelahku Amoy sudah tidak ada. Dengan perasaan malas aku bangun dan menuju ke kamar mandi. Sesampai di sana kulihat Amoy membelakangi pintu dan sedang menyikat gigi, perlahan kudekati dan kupeluk dari belakang, tak lupa tanganku mampir di kedua buah dada Amoy.
“Eh dah bangun ya mas?” sapa Amoy. Kurasakan penisku menegang lagi, dengan posisi demikian kurenggangkan kedua kaki Amoy dan perlahan kumasukkan penisku dari belakang. Amoy mengerang lirih dan berpegangan pada tepi bak mandi, sampai akhirnya Amoy mencapai orgasmenya.
Setelah itu ia jongkok di depanku dan mulai mengulum penisku sampai mencapai orgasme yang ditelan Amoy sampai habis.
Setelah mandi dan sarapan, kami berdua bersantai di teras depan losmen. Kemudian Amoy bertanya dengan perasaan sedih, “Mass, kira-kira besok-besok gimana ya hubungan kita..” tanyanya sedih. “Mau kamu gimana Ka? balasku bertanya lagi. “Mau Amoy kita gak buru-buru putus mas, setelah peristiwa semalam sampai hari ini, kayaknya Amoy suka deh sama mas Anton?” katanya sambil mulai meneteskan air mata. Aku bangkit dan memeluk dirinya, ku elus punggung dan rambutnya. “Mas juga sama kok perasaannya dengan kamu sayang” kataku menghibur. “Kita lihat besok aja ya, dan aku janji selalu menghubungi kamu ya Ka.” kataku kemudian. Amoy hanya mengangguk lemah. Daftar Disini
Sejak itu sesuai dengan janjiku, aku selalu mengunjunginya dan kami masih berhubungan intim terus, bila tidak di kostanku ya di kostnya Amoy. Sampai suatu saat dia bilang kalau dilamar oleh cowoknya yang dulu, dimana cowoknya telah mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan menyakiti Amoy lagi. Aku pun agak goncang, tetapi gimana lagi, aku sendiri masih kuliah, masih nodong orang tua, sementara cowok si Amoy telah bekerja, akhirnya kuihklaskan kepergian Amoy. Sebelum berpisah Amoy kuajak ke Tawangmangu selama dua hari, berdua memuaskan hasrat sebelum berpisah. Memang Amoy sendiri tidak bisa menolak cowok tersebut yang masih terhitung famili jauhnya, setelah kunasihati akhirnya Amoymau mengerti dan menerima lamaran cowoknya.
Kini aku jomblo lagi, sementara cewekku dulu sudah aku putuskan kemarin-kemarin, yah semoga bro-bro masih mau membaca kisah petualanganku yang lain di cerita selanjutnya.






0 comments:
Post a Comment